SMP Islam Athirah Bone Gelar Sidang Perdana Jaminan Mutu Literasi 2026
BONE – SMP Islam Athirah Bone
resmi memulai rangkaian Sidang Presentasi Tugas Akhir Jaminan Mutu Literasi
2026 pada Rabu (15/4). Bertempat di ruang Bahasa Indonesia I, sidang perdana
ini menjadi panggung bagi empat siswa kelas IX untuk mempertahankan karya tulis
ilmiah mereka di hadapan para penguji.
Kegiatan ini merupakan muara dari
proses panjang yang telah dimulai sejak Desember 2025. Jaminan mutu literasi di
SMP Islam Athirah Bone diwujudkan secara nyata melalui praktik penulisan karya
tulis ilmiah (KTI). Pada tahun ajaran 2025/2026, pihak sekolah memberikan
fleksibilitas bagi siswa kelas akhir untuk memilih satu dari empat jenis tugas
akhir, yakni Karya Tulis Ilmiah Bidang Sastra, Karya Tulis Ilmiah Bidang Sains,
Penulisan dan Bedah Buku Karya Siswa, dan Presentasi Tadabbur Ayat (Khusus
siswa program Takhassus/Hafiz Qur’an)
Pada pembukaan sidang kali ini,
fokus utama tertuju pada bidang sastra. Empat siswa yang terpilih menyajikan
hasil penelitiannya Adalah Mawar (Bentuk Program LIterasi Pada Sekolah Boarding
Dalam Novel Negeri Lima Menara Karya A. Fuadi), Fadhil Khairi Azzam (Lima
Pedoman Hidup Bahar dalam Buku “Janji” Karya Tere Liye), Kayla Regina (Dampak Kekerasan Terhadap Mental
Anak pada Novel Rumah untuk Alie Karya Lenn Liu) dan Andi Inayah (Nilai Humanis
dalam Novel Cake Shop karya Nana S.)
Sidang yang direncanakan
berlangsung selama tiga pekan ini dipimpin langsung oleh penguji dari jajaran
pimpinan sekolah, yakni Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan beserta dua guru
pendamping. Tak hanya itu, suasana sidang juga semakin hidup dengan kehadiran
rekan sejawat dari kelas IX yang turut menyaksikan jalannya presentasi.
Wakil Kepala SMP Islam Athirah
Bone, Erwin, B., S.Pd., Gr., ME., yang bertindak sebagai penguji, tidak dapat
menyembunyikan rasa bangganya atas performa para siswa di hari pertama.
"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan
bangga sekali atas penampilan siswa di sidang perdana hari ini. Ini merupakan
bentuk representasi dari hasil belajar anak-anak selama hampir tiga tahun di
sekolah," ungkap Erwin saat diwawancarai usai kegiatan.
Ia juga menekankan bahwa
keterampilan meneliti dan menulis yang diasah melalui program ini bukan sekadar
syarat kelulusan, melainkan investasi jangka panjang.
"Semoga apa yang siswa
dapatkan bisa menjadi bekal berharga untuk jenjang pendidikan berikutnya, baik
di SMA maupun saat di perguruan tinggi nanti," pungkasnya. Nurholis_Tim
Athirah Web

